Puisi Itu...
Hari Selasa jam 8.30, Ve udah nyampe kantor. Hm, masih ada 30 menit buat baca email nih, kata Ve dalam hati. Wah, ada 78 new messages! Ve menggerakkan kursor turun...turun lagi...eits, ada dari Imunk! Sahabat tersayang... Dengan senyum-senyum, Ve meng-klik pesan itu. Namun, perlahan-lahan senyum Ve menghilang, perasaan senangpun berubah sedih. Imunk, sahabatnya sejak puluhan tahun lalu mengirimkan sebuah puisi yang betul-betul membuat hatinya teriris...Sambil menelan kekecewaan, Ve meng-klik icon "print" di sudut kanan atas window emailny, kemudian melipat puisi yang sudah diprint itu dan memasukkannya ke dalam tas. Ve mencoba untuk konsentrasi bekerja. Hari ini dia harus menyelesaikan beberapa cerpennya yang akan dimuat di edisi mendatang.
Di kamar, Ve membuka lipatan kertas puisi yang tadi disimpannya kemudian membacanya...
"....aku merasa kecil...nggak ada apa-apanya.
Bahkan dalam sekian banyak tulisannya
tidak sedikitpun menyinggung soal diriku"
Ve menelan ludahnya, hatinya kembali merasa teriris. Imunk, seperti itukah kamu menilai persahabatan kita? Hanya sebatas cerita-ceritaku yang dimuat di majalah? Ve kembali melanjutkan membaca puisi itu...
"..kadang aku berfikir, apakah aku terlalu merasa sudah menjadi sahabat sang penulis?
atau aku yang terlalu sensitif atau sang penulis yang sudah berubah atau memang sudah seharusnya mesti berubah..."
Ve menarik nafasnya dalam-dalam. Apakah benar dia telah berubah? Memang, kini Ve tidak tinggal bersama orang tuanya. Karena ingin mandiri, Ve memutuskan untuk kos bersama teman kantornya. Tapi semua itu tidak menjadi alasan untuk berubah, kan? Meski cara pandang Ve kini berbeda dengan ketika ia masih sekolah dan tinggal bersama ayah, ibu dan kakaknya, tapi perasaannya terhadap semua orang yang dicintainya - termasuk Imunk - sama sekali tidak berubah. Ve pun yakin, pandangan hidup Imunkpun kini pasti telah berubah seiring dengan pengalaman dan perkembangan hidupnya. Tapi Ve tidak pernah menilai bahwa perasaan sayang Imunk padanya berubah. Lalu, mengapa Imunk berpendapat begitu? Sungguh, Ve tidak mengerti...
Puisi itu ditutup dengan kalimat:
"AKU RINDU SAHABATKU YANG DULU"
Ah, Imunk...kalau kamu rindu, gak mungkin kamu menulis puisi seperti ini...
Tanpa terasa, mata Ve mengalirkan air mata seiring perihnya perasaannya...
(untuk "bakwanku", berpikir positif membuat segalanya lebih baik dari hari ke hari...)


0 Comments:
Post a Comment
<< Home