"Mama, Mandikan Aku..."
Laila memandang sahabatnya dengan perasaan iri. Sungguh beruntung Sheila. Wajahnya cantik, kulitnya mulus didukung pula oleh tubuh yang tinggi semampai. Itu belum seberapa, kecerdasannyapun sudah teruji. Selama duduk dibangku kuliah, Sheila selalu mendapat pujian dari semua dosen. Dia rajin, tak heran kalau IP (indeks prestasinya) selalu 4,00! Wanita mana yang tidak iri melihat kesempurnaan ini? Dan pria mana yang gak tergoda untuk memilikinya?
"Heh! Bengong!"Sheila memutuskan lamunannya.
"Gak...aku cuma iri sama kamu. Kamu cantik, pintar, punya suami tampan dan mapan, punya seorang anak yang lucu. Karirmu pun bagus. Bener-bener wanita karir yang sukses!...Duh, Sheil...kapan ya, aku kaya' kamu?"kataku jujur.
"Ah, itu semua kan hasil kerja keras, La..gak mungkin kita bisa menikmati kesuksesan tanpa usaha yang keras juga. Ya, kan?"
"Tapi kamu cantik..."
"Hahaha...Laila...Kecantikan itu jangan dilihat dari fisik, sayang...tapi dari sini.." Sheila menunjuk dadanya.
"Huh...sok filsafat, ah!"
"Hahaha...lagian kamu...bukannya bersyukur dengan apa yang kamu punya. Toh kamu juga sukses sebagai editor senior sebuah majalah ternama ibukota. Namamu sudah akrab ditelinga semua orang..." Sheila coba menghiburku.
"Tapi aku gak cantik...Gak ada pria yang mau mendekatiku...bahkan sampai kepala tiga begini, aku masih lajang..."
"Hush! Jangan kepatok ama umur! Kamu masih muda, kamu juga pintar...buktinya, cuma dalam waktu 6 bulan aja, kamu langsung diangkat jadi senior editor! Orang lain mungkin membutuhkan waktu 1 - 2 tahun untuk posisi itu.."
"Hhh...udah ah, jangan dibahas...pokoknya aku iri sama kamu. Titik! Nah, sekarang...kapan kamu akan berangkat?"
"Tiga hari lagi. Sekretarisku sedang mengurus paspor, viskal dan segala tetek bengek yang diperlukan selama aku training kerja di sana..."tiba-tiba mata Sheila berbinar-binar. "Duh, doain ya. Mudah-mudahan sepulang dari Jepang, aku langsung dipromosiin jadi Senior Vice President! Wow, can you imagine that, La? My dream comes true!"Sheila bercerita dengan semangat dan ceria.
"Lalu suamimu gimana? Dan, Alif? Apa gak sebaiknya Alif kamu bawa? Kalo dia kangen kamu gimana? Apa kamu gak kangen ama dia? Kamu di Jepang 2 tahun, lho..."
"Pengennya sih Alif aku bawa. Tapi, ntar malah ganggu konsentrasiku kerja. Kamu tau kan Alif itu manja sekali kalau sama aku, La..."
"Ya, wajar dong Sheil..kamu kan ibunya. Sama siapa lagi dia mau bermanja-manja. Anak seusia Alif, pasti ingin bermanja-manja sama ibunya, masa sama susternya terus?"
"Tapi kalau ada dia, aku kan gak bisa konsentrasi, La! Minta perhatian terus...Lagian Mas Pras juga dukung aku, kok..." Sheila membela diri.
"Mas Pras dukung kamu, karena kamu bisa ngambek-jutek kalo dilarang. Iya, kan? Kalo ditanya hatinya yang paling dalam pasti suamimu itu tak ngijinin kamu pergi. Iya, kan?" Aku hapal betul sikap mau menang Sheila yang satu ini. Kalau keinginannya tidak terpenuhi, dia akan marah, ngambek dan ngajak berantem terus. Untung Mas Prasasti, seorang suami yang sabar.
"Ah, udah deh, La...aku ngajak ketemu hari ini bukan mau berantem. Tapi mau minta tolong...sering-sering jengukin Alif ya, ke rumah...?"
"Oh, ternyata kamu khawatir juga kan, ninggalin Alif selama 2 tahun??"
"La! Aku ibunya...mana mungkin aku gak khawatir???!!" Sheila mulai emosi.
"Sadar juga...kalau gitu, bawa dong Alif bersamamu...?"
Sheila bangkit dari duduknya, "Kalau kamu gak mau nolongin aku, ya sudah! Aku bisa minta tolong temanku yang lain. Temenku bukan cuma kamu, La! Bilang aja kamu iri sama keberhasilanku, iya kan? Iya kan? Huh, aku sudah nganggap kamu saudaraku, La! Tapi kamu...Huh!" Sheila memutar tubuhnya dan lari meninggalkanku.
Laila termenung. Bukannya aku gak mau nolongin kamu, Sheil..Bener, aku iri akan keberhasilanmu..tapi aku juga bangga punya sahabat sekaligus saudara seperti kamu. Aku hanya gak tega kalau memikirkan Alif, putramu satu-satunya. Begitu sering kamu ninggalin dia. Dalam sebulan, mungkin bisa dihitung jari kamu bertemu dengannya. Kamu sering ditugaskan keluar kantor, baik keluar kota maupun keluar negeri. Padahal seusia Alif, figur ibu sangat dibutuhkan untuk perkembangan jiwanya. Apa kamu gak sadar, kamu terlalu mengejar karir hingga melupakan kodratmu sebagai ibu, Insinyur Sheila Kainama? Tanpa kusadari, mataku berkaca-kaca.
----
"Mas Pras gimana sih? kemarin kan udah ijinin aku pergi. Kok sekarang...?" Sheila kaget dan marah ketika suaminya menelpon dan memintanya untuk menunda keberangkatannya ke Jepang.
"Aku bukan ngelarang, Ma..Aku cuma minta, bisa gak Mama perginya diundur 3 hari lagi? Karena aku siang ini harus mengunjungi kantor perwakilanku di Singapur..."Pras mencoba menjelaskan.
"Nggak...nggak bisa! Dan aku nggak mau! Kamu aja yang ditunda perginya..."seperti biasa, Sheila gak pernah mau kalah.
"Ditunda gimana? Kamu kan perginya 2 tahun, Ma? Aku harus ke Singapurnya 2 tahun lagi, gitu???"
"Terserah! Pokoknya aku tetap berangkat!" Brak!! Sheila membanting telpon dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kenapa sih, semua orang seperti menghalang-halangi keberangkatannya? Kemarin Laila dan sekarang Mas Pras! Padahal mereka tahu, bahwa kesempatan ini amat dinanti-nantikannya! Menjadi Senior Vice President diusia 30 tahun? Tidak, aku gak mungkin menyia-nyiakan kesempatan emas ini! Besok aku harus berangkat! Dengan atau tanpa ijin Mas Pras!
----
"Alif, bangun nak...Mama mau pergi..."perlahan, Sheila membangunkan Alif.
"Huaahhh..." sambil menahan kantuknya Alif menguap. "Mama mau kemana?"
"Mama mau kerja sayang. Tapi kali ini mama kerjanya jauh dan lama. Selama mama pergi Alif jangan nakal, ya? Nurut sama Suster Andar ya, sayang?"
Alif mengucek matanya. "Kapan Mama berangkat? Dan kapan Mama pulang?"
"Naik pesawatnya sih nanti siang, sayang. Tapi mama harus berangkat pagi ini ke kantor..."
"Kalau gitu, mama maukan mandiin Alif dulu?"
"Duh, mama gak sempet sayang...Alif mandi ama suster ya? Mama buru-buru, sayang..."
"Kalo gitu Alif mandinya nunggu mama pulang aja!" seperti biasa, Alif mulai ngambek dan cari perhatian.
"Alif.."tiba-tiba Prasasti telah berdiri di belakang Sheila. "Mandi sama Papa yuk, nak?"
"Gak mau! Alif mau mandinya sama mama..!! Ayo, mama mandiin Alifff..Huhuhuuu.."Alif mulai merengek.
Sheil memandang Prasasti, seperti mohon pengertian suaminya itu.
"Alif", Prasasti merangkul Alif. "Mama harus pergi kerja, sayang. Tuh, liat...Mama udah rapi gitu...ntar kalo mandiin Alif, baju mama basah, gimana..kasian kan??" Prasasti mencoba memberi pengertian.
"Kan bisa diganti! Alif kan sayang sama mama...Alif maunya dimandiin mama...!!!"Alif mulai nangis dan berontak. Suster Andar mencoba menenangkan, Alif semakin berontak dan meronta-ronta.
"Alif!" Sheila mulai kesal melihat kekolokan Alif. "Dengerin mama! Alif mandi sama Suster Andar. Mama mau berangkat kerja sekarang! Dan selama mama pergi, Alif harus nurut sama suster!! Ngerti?!" suara Sheil meninggi dengan tatapan tajam.
Alif terdiam. Suster Andar terpaku. Sheila memenjamkan matanya sejenak, kemudian mengangkat kopernya, "Aku berangkat, Mas!". Prasasti menarik nafasnya dalam-dalam.
----
Tergesa-gesa Sheila membuka pintu taxi. Sekuat tenaga ia berlari menghambur di kerumunan orang-orang yang memenuhi rumahnya. Suara pengajian dan tangisan mengiringi langkah kakinya yang terasa berat.
Begitu sampai di ruang tengah rumahnya, Sheila terpaku. "Alif...."ujarnya lirih. Tungkainya lemas, nafasnya sesak, matanya sembab karena sepanjang perjalanan Jepang - Jakarta tak henti-hentinya ia menangis. Prasasti merangkul istrinya dengan perasaan kacau balau. Kemudian membimbing Sheila agar duduk disampingnya, dekat dengan putra mereka. "Alif, ini mama pulang, Nak..."ujar Pras parau. "Alif..bangun, sayang...ini mama...mama pulang, Nak...bangun sayang...buka matamu, Alif...liat mama sayang...Aliiiiiffff.....!!!"Sheila tak kuat lagi menahan sesak di dadanya. Sekuat apapun Sheila meneriakkan namanya, Alif tak bergeming. Sekujur tubuhnya telah kaku. Tak ada lagi bocah 5 tahun yang kolokan, yang cerewet minta perhatian. Hanya senyum manis dan wajah damai yang terlukis di wajahnya. Alif telah pergi untuk selamanya...
Dengan perasaan yang menyiksa, Pras sekuat tenaga memandikan Alif. Disampingnya, dengan kedukaan yang tak terlepas di wajahnya, Sheila mengambil gayung dari tangan suaminya dan mulai memandikan Alif. Tiba-tiba Sheila menangis sejadi-jadinya,"Aliiifff....Bangun, Nak... Bangun sayang...Ini Mama, Aliff....Alif mau dimandiin sama mama,kan?? Bangun sayang...bukalah matamu, Nak...Ini Mama mandiin Alif....Aliiiiiffffffffffff....Bangun, Nakkkk.....Aliiiiiiiffff...."Sheila pun terkulai lemas. Dengan gesit, Prasasti merangkul istrinya yang pingsan...


0 Comments:
Post a Comment
<< Home